Kamis, 03 April 2014

Kalau Cinta Butuh Alasan, Ini Jawabannya

Satu.. dua.. tiga.. empat.. duapuluh… tigapuluh…masih ada lagi..

*prok, prok*  duh nyamuk… Eh tadi berapa ya? Ah sudahlah hitunganku sudah buyar. Perlahan orang-orang turun dari mobil yang aku hitung tadi. Berlari kecil khawatir tertinggal jamaah salat magrib. Sambil bersandar di tiang masjid aku tersenyum. Indahnya suasana ini apalagi dengan latar pergantian langit yang sekarang kemerahan akan berubah menjadi gelap.

Banyak, sungguh banyak jamaah yang ada, bukan hanya dari puluhan mobil yang tadi sempat aku hitung. Tapi juga ada dari sekitar seratus motor dan satu, dua orang pejalan kaki. Tunggu, mungkin ini salah satu hari spesial? Aku ingat-ingat namun tetap saja tidak ada yang istimewa pada hari ini. Hari ini hanya tanggal 2 bulan April 2014. Sungguh bukan hari perayaan umat muslim. Kali ini aku melihat masjid bukan sekadar tempat ritual dua kali setahun. Iya hidup, benar-benar hidup.

Puluhan mobil, motor yang parkir di depan masjid Al-Makmur

Lupa, hampir aku lupa tentang apa yang aku sukai dari kota ini. Aku sungguh menyukai suasana kotanya yang masih banyak pohon, pantai dan sungai. Lega dari keruwetan kota seperti yang selalu menghiasi kampung halamanku. Tapi memang aku punya alasan lain menyukai kota ini. Yaa.. Aku sungguh rindu akan suasana seperti ini. Perlahan tapi pasti rongga-rongga kosong dalam hatiku terisi olehnya.

Teringat saat pertama kali aku menginjakkan kaki di tanah rencong ini. Kira-kira satu setengah tahun lalu. Saat itu berkah Ramadan. Aku ditelepon kakakku yang berada di Banda-Aceh

“Dek, selamat lu lulus FK Unsyiah!” Suara setengah berteriak itu memecah siang hariku.

Takjub, dengan gemetar aku berusaha merespon suara kakakku di seberang sana“Ah yang bener mpok?”

Masih tidak percaya. Berdebar hati ini sambil bersyukur juga harap-harap cemas aku langsung membuka pengumuman lewat internet. Benar saja, aku diterima FK Unsyiah jalur reguler. Bangganya orangtuaku saat itu. Tak perlu menunggu waktu lama, aku mencari tiket pesawat Jakarta-Banda Aceh saat itu juga untuk mendaftar ulang.

Sore itu selesai kepentingan mendaftar ulang dan berbagai tes kesehatan, aku berjalan-jalan sore bersama sahabatku yang juga diterima di jurusan yang sama. Kami menyempatkan diri membeli makanan untuk berbuka puasa.

“Eh Ti, banyak cemilan tuh, lu mau ga?” Sahabatku menunjuk jajaran pedagang di pinggir jalan
“Mauuu!!!” Jawabku bersemangat
“Yaudah yuk beli kesana!”
“Oke!”

Aku bingung sambil melirik jajanan pinggir jalan yang berbaris rapih “Hmm banyak banget yang jualan, gue bingung nih mau beli apa, gimana kalo beli bakso goreng aja yuk!”
“Yaudah gue mau, eh beli berapa banyak? Lima ribu dapet ga sih?”Seru sahabatku itu sedikit ragu.
“Yaudah kita coba dulu, kalo mahal gajadi beli aja hehe” Timpalku sambil nyengir
"Sip Hahaha!"

***
Kita sepakat untuk jalan santai mendekati jajanan yang berada di sekitar lapangan tugu kampus. Perlahan tapi pasti, kami medekati gerobak merah yang menjual bakso goreng.

“Beli apa nak?”Seru bapak penjual saat kami semakin dekat
Sahabatku menyodorkan uang pecahan lima ribu rupiah “Bakso goreng Pak, lima ribu bisa?”
“Bisa nak… kalian puasa nak?” sambil memasukkan bakso dalam plastik
“Iya Pak, ..”Jawabku
“Yaudah nih Bapak tambahin baksonya, sedekah”
Aku dan sahabatku saling pandang “Waah, Alhamdulillah.. iya makasih banyak ya Pak!”

Ini, hanya disini aku mendapatkan semangat beribadah yang tinggi masyarakat dari berbagai kalangan. Ini bukan hanya kisah tentang penjual bakso goreng yang ingin mendapat bonus pahala dengan memberi makan orang berpuasa. Ada lagi, tentang kisah loper koran yang sangat sejuk mukanya saat berjualan di tengah terik matahari di sela kemacetan lampu merah. Dan beliau datang tepat waktu ketika mendengar seruan Tuhannya.

Lagi lagi ini bukan hanya masalah loper Koran. Toko-toko sepanjang jalan raya saat kumandang Magrib diserukan bagaikan tentara yang mendapat komando dari atasannya. Tertib, rapih, disiplin.  Mereka kompak menutup sementara dagangannya. Mereka seolah berbicara kepada dunia “Sekarang bung, saatnya kami para muslim beribadah”.


Suasana menjelang Magrib, toko-toko tutup sementara

Tidaklah mudah untuk sekarang berpegang teguh kepada syariat dengan sempurna. Banyak mungkin rintangan, cibiran, godaan ditengah arus globalisasi yang tak jarang lebih mengutamakan kepentingan dunia. Aku yakin kamu akan tetap kuat. Terus berjuang, wujudkan kehidupan yang Rabbani seperti ini. Jangan pernah lupa akan identitasmu. You’re different, that’s why I love you

11 komentar:

  1. Lari banget judul postingan sama isinya, Siti. :)

    Eh, netap aja di sini. Dapat imam orang Aceh, ya! :D

    BalasHapus
  2. Kak isni duluan lah, baru mikirin aku :p

    BalasHapus
  3. siti bagus sekali postingannya. abg share yaa

    BalasHapus
  4. boleh bgt bang, blog ini memang untuk umat :D

    BalasHapus
  5. ahahahaaa...
    ga shalat ya ? bilang mama nanti ya ?

    BalasHapus
  6. azzzz. jangan lupa mampir kemari ya : http://charmingaceh.blogspot.com/2014/04/jangan-ke-banda-aceh.html

    BalasHapus
  7. Mantap Banget Tulisan ya.
    Destinasi Lengkap Aceh cuma Ada di : http://acehplanet.com/

    BalasHapus
  8. Bagus artikel nya, jangan lupa mampir kemari ya : http://bandaacehvisit.blogspot.com/2014/04/banda-aceh-icon-para-cendekia-aceh.html

    BalasHapus
  9. kiraen postingan ini tentang cerita cinta betulan, Yang sering digembar-gembor di tv. ternyata terkaanku salah, cinta ini bukan yg tv gembar gembor tapi siti yg gembar gembor. bisa aje luuu

    BalasHapus
  10. Undangan Menjadi Peserta Lomba Review Website berhadiah 30 Juta.

    Selamat Siang, setlah kami memperhatikan kualitas tulisan di Blog ini.
    Kami akan senang sekali, jika Blog ini berkenan mengikuti Lomba review
    Websitedari babastudio.

    Untuk Lebih jelas dan detail mohon kunjungi http://www.babastudio.com/review2014


    Salam
    Baba Studio

    BalasHapus