12-09-2013
Pagi itu langit begitu keabuan untuk beberapa lama kemudian disusul titik-titik halus air hujan. Aku lupa menaruh jas hujan di motor, aku berdoa gerimis berhenti pukul 10.00 ketika aku berangkat ke kampus.
Sebenarnya aku masuk pukul 14.00 tetapi hari ini aku harus datang jauh lebih cepat. Ya, hari itu memang bukan hari biasa, hari itu adalah jadwal praktikum anatomi. Aku tidak ingin sedetik pun terlambat. Rencanaku untuk datang lebih awal juga karena ingin membandingkan apa saja yang teman-temanku pelajari untuk pretest dan posttest praktikum kali ini. Apakah aku belajar terlalu sedikit atau malah terlalu banyak, entahlah.
Alhamdulillah do'aku terkabul, dan cuaca mulai hangat. Perlahan aku keluarkan motor dari dalam garasi. Aku bergegas menyalakan sepeda motor kesayanganku.
Starter pertamaku tidak membuahkan hasil, aku pikir karena standar yang lupa aku naikkan, ternyata tidak. Aku mulai melihat tangki bensin. Isinya masih banyak, bahkan cukup untuk pulang-pergi rumah ke kampus dua hari berturut-turut. Kali ini aku berpikir bahwa akinya yang habis. Saat aku menyalakan klakson motor, bunyinya masih terdengar nyaring. Lalu dimana salahnya? Aku mulai panik.
Aku mendorong sekuat tenaga beat putihku dari garasi ke teras. Karena belum terbiasa, aku harus berjuang untuk menaikkan standar. Aku terus mencoba menyalakan motor untuk beberapa saat, namun nihil. Motorku sempurna tidak bergeming.
Mungkin karena aku perempuan jadi kurang kuat saat mengengkol motor. Aku mulai meminta bantuan dari tetangga sebelah untuk menyalakan motor. Usaha mereka sudah cukup keras. Tetapi motorku tetap tidak ada tanda-tanda kehidupan. Akhirnya para tetangga ku menyerah. Aku juga tidak bisa memaksa mereka untuk terus berusaha.
Aku galau, saat itu tidak ada seorangpun dirumah. kakak-kakakku dan sahabatku sudah lebih dulu berangkat ke kampus. Hari itu aku tidak memiliki pulsa sepeser pun sehingga tidak ada yang bisa aku hubungi. Lebih parahnya lagi, rumahku sekarang di pelosok sangat jauh dari angkutan umum. Aku pikir untuk mendorong motor ke bengkel dan menunggu servisnya selesai akan memakan banyak waktu. Apa kabar dengan praktikum anatomi ku? Aku memutuskan meninggalkan motor yang tak bernyawa di depan teras.
Aku mulai memikirkan cara-cara untuk mencapai kampus, minimal mencapai trayek angkutan umum.
1. Meminta tetanggaku mengantar.
2. Menyetop kendaraan yang lewat depan rumah
3. Jalan kaki sampai depan gang.
Setelah memikirkan berbagai pertimbangan, pilihan pertama memiliki banyak kelemahan. Karena aku masih warga baru dan belum kenal dekat dengan tetangga, tidak mungkin seenaknya aku minta tolong. Pilihan kedua juga lemah, aku tidak berani menyetop sembarangan pengendara motor yang lewat. Akhirnya aku memutuskan untuk maraton ke depan jalan sambil membawa atlas Anatomi yang sangat berat.
Karena cuaca semakin terik dan panas. Aku memutuskan untuk menggunakan payung. Karena sinar ultraviolet di Aceh cukup tinggi dan mudah membakar kulit.
Aku menyemangati, dan menyuruh diriku sendiri untuk bersabar lalu memulai jalan kaki sambil membuka payung.
Salahnya diriku, selain panas membakar, aku kurang mengantisipasi akan angin badai yang sering melanda kota ini. Walhasil angin kencang serta gumpalan debu yang beterbangan membuat payungku terbalik di tengah perjalanan. Wujudnya sekarang malah menyerupai es krim. Aku berusaha sekuat tenaga membuat payungku kembali ke wujud awal.
Ditengah usaha kerasku, ada seseorang dari jarak yang jauh menoleh ke arahku. Dia menertawaiku dengan keras hingga seluruh rahangnya hampir lepas. Aku mulai geram, ditengah penderitaanku bisa-bisanya Ia tertawa pada orang yang tidak dikenal seperti itu. Payungku hanya terbalik, apanya yang lucu. huh. Aku berusaha tetap stay cool dan melanjutkan perjalanan jauh hingga bertemu lampu merah.
Aku mulai melipat payungku dan menyetop angkutan umum. Aku sudah bisa bernapas lega sambil beristirahat dalam angkutan. Aku memikirkan tindakan dari orang tak dikenal tadi. Namun, ah sudahlah tak ada gunanya marah, ada yang lebih penting untuk aku pikirkan. Ya............ kenapa motorku ngambek disaat genting untuk pertama kalinya?
Jumat, 13 September 2013
Jumat, 06 September 2013
kirain kutu air..............
oke manteman kali ini saya akan membuat program baru dalam blog saya yaitu P3K kepanjangaannya yaitu Pertolongan Pertama Pada Kecantikan eh maksudnya kesehatan lahir batin. Oke mungkin artikel-artikel ini nantinya siapa tahu berguna untuk nusa bangsa terutama masyarakat yang awam akan dunia kesehatan.
jadi gini secara saya masih termasuk mahasiswa tingkat awal di fakultas kedokteran yang ilmunya baru setinggi pohon toge. yaa harap maklum ya kalo ada salah teori atau penjelasan kurang jelas jadi bikin anda malah makin galau. artikel ini sangat tidak bisa dijadikan bahan referensi untuk tutorial apalagi penelitian, karena ini semua hanya berdasarkan pengalaman pribadi atau orang-orang terdekat dari saya. got it? well, okedeh tanpa memperpanjang mukadimah langsung aja ya masuk ke tayangan perdana saya tentang P3K. check this out!
Prinsip merantau ini buat saya adalah hidup hemat, jadi jangan sampe kayak beberapa teman saya yang besenang-senang dahulu lalu sakit, nyeri, sesak, sekarat kemudian. Foya-foya di awal, terus akhir bulan bingung mau pinjam uang sama siapa.
Karena saya ingin berhemat jadi sebisa mungkin saya melakukan semuanya sendiri ditengah-tengah deadline kuliah, tugas, organisasi, dan sederet ritual makhluk rempong bernama perempuan. Saya berusaha sekuat tenanga melakukan semuanya sendiri, mulai dari nyapu, ngepel, nyuci baju, nyuci motor, nyuci piring, gosok baju, masang lampu, geser lemari, tempat tidur, dan sebagainya. Pokoknya segala kegiatan pertukangan dan per-asisten rumah tanggaan.
Saya mencoba untuk tidak memanjakan diri sendiri, sebisa mungkin saya tidak melemparkan baju saya ke tempat laundry. Selain karena niat itu, karena hawa di tempat berdomisili saya sekarang sangat panas, jadi saya malah senang main air sambil mencuci di siang hari.
Tapi lama-kelamaan saya merasakan ada perubahan pada telapak kaki saya, tepatnya di sela ibu jari kaki dan sekitarnya. Saya kira, oh mungkin kutu air, karena keseringan mencuci mungkin. tapi semakin lama semakin mengerikan, kulit telapak kaki saya di sekitar ibu jari mulai terkelupas, bahkan sedikit dagingnya membelah yang menyebabkan nyeri luar biasa saat berjalan.
Selidik punya selidik, ternyata ada saudara saya yang menderita dematitis contact (DC). you have to know guys, jadi dermatitis kontak ini bisa terjadi karena reaksi hipersensitivitas atau sensitif yang berlebihan pada suatu alergen atau penyebab alergi.
Nah jadi saudara saya ini, sebut saja melati, kebetulan melati anak kos juga jadi mencuci sendiri. Telapak kaki melati ini hampir semuanya terkelupas sehabis mencuci, bahkan kulit telapak kaki yang super tebal itu terkikis sampai pembuluh darah di kakinya jelas terlihat. Bahkan melati nggak sanggup untuk jalan karena sakit luar biasa.
Setelah diperiksakan ke dokter ternyata si melati menderita DC, dan penyebabnya adalah detergen. Nah menurut gejala yang ada dan garis keturunan yang sama, ternyata saya juga menderita DC. Sebenernya alergi itu simple kok, kalo kita jauhin si alergen ga bakal terjadi apa-apa. tapi secara saya nggak mungkin ngejauhin detergen seumur hidup, jadinya saya cari solusi lain. setelah yakin akan penyakit saya, saya mempunyai ide untuk membeli sepatu boot yang akan selalu saya pakai jika berhubungan dengan detergen. dan alhamdulillah yaa sesuatu banget, perlahan-lahan telapak kaki saya semakin membaik.
ngerasa sependeritaan? coba aja beli sepatu boot juga dooong hehe
*ohiya dermatitis kontak bukan cuma karena detergen, bisa juga karena lapisan dari jam tangan, yang buat anda gatel terus garuk-garuk kalo pake jam tangan. hmm banyak deh dan sebagainya dan sebagainya.
buat lebih jelasnya baca buku tentang hipersensitivitas, disana dibagi klasifikasinya juga. udah itu aja. terimong geunaseh atas perhatiannya rakan-rakan ^^
Jumat, 19 Juli 2013
Mereka #PenaKamiTidakPuasa
Dua pribadi dengan pautan usia yang tak bisa dibilang sedikit, dari latar belakang keluarga yang mungkin jauh berbeda. Entahlah, tak begitu jauh aku mengenali mereka namun aku kagum dengan sosoknya sejak pertama kali berjumpa.
Tak perlu membeberkan deretan prestasi yang telah diraih, dengan mendengarnya berbicara kau akan tahu kalau dia pribadi yang cerdas. Wawasannya luas, katanya padat berisi, sikapnya renyah bersahabat namun tegas saat dibutuhkan. Untuk sebagian orang hal tersebut mungkin sudah biasa dan banyak dimiliki oleh penghuni planet bernama bumi ini.
Ada satu yang tidak biasa, ya kali ini sungguh berbeda. Aku mengaguminya karena imannya. Aku tahu aku bukan Tuhan yang dapat mengukur kedalaman iman seseorang. Aku berpendapat begitu karena aku melihat keteguhan mereka saat menyampaikan kebenaran berdasarkan Al-Qur'an dan sunnah. Keteguhan mereka saat melawan kebatilan yang merajalela, kekuatan mereka untuk berjalan menyampaikan firman-Nya di saat banyak yang memilih jalan lain.
Jauh dari kesan bahwa wanita makhluk lemah, kedua wanita ini selalu menampakkan taringnya pada dunia. Seolah menggenggam dunia pada telapak tangannya. Memilih hidup di jalan Illahi tak berarti dunia terbengkalai. Bagi kaum berpendidikan beasiswa ke luar negeri, siapa yang tidak tertarik? Namun tak semua bisa dipilih, tak semua bisa berangkat. Keduanya pernah mencicipi manis pahitnya studi di ranah Barat, ditengah agamanya menjadi minoritas. Mereka adalah orang-orang pilihan.
Baiklah akan aku ceritakan satu-persatu sosoknya sedikit lebih detail.
#Satu
Dia menjadi pakar di dua disiplin ilmu berbeda, kedokteran dan agama islam. Setiap kali ia mengisi kelas, aku mengabaikan rasa kantuk yang menjadi teman setiaku saat kuliah. Selama ini aku hanya bisa kagum dan fokus setiap kali ia memberikan materi. Aku hanya satu dari 250 mahasiswa dalam kelas itu.
Sesekali aku juga berjumpa dengannya di mushala kampus saat kajian. Di lain waktu aku bertemu saat seminar kedokteran. Lagi-lagi dia sebagai pematerinya. Kali itu mungkin aku satu dari puluhan mahasiswa yang menyimak materinya.
Siapa yang menyangka, saat kita bertemu di sebuah tempat donor darah ia menyapaku. Tak hanya itu, dia memanggil namaku. Aku sangat bangga bukan kepalang, dia tau namaku. Padahal aku hanya mahasiswa baru dan belum memiliki prestasi di kampus. Aku merasa bahwa kita sekarang telah saling mengenal.
#dua
Lagi-lagi kami dipertemukan lewat kampus. Dia mengisi materi saat masa orientasi kampus. Caranya berbicara sungguh menghipnotisku. Dia salah satu senior yang sangat aku kagumi. Dia benar "gaul" tetapi sangat islami. Dengan sederet organisasi, serangkaian tugas dan segerombol masalah, dia lulus tepat pada waktunya.
Aku berjalan dari parkiran menuju mushala, aku bertemu dengannya. Demi sopan santun junior aku menyapanya. Dia balas menyapa renyah. Kami beriringan berjalan ke mushala. Aku menghitung uang hasil jualan di kantin kejujuran. Ia membeli sederet jajanan ringan dan menemaniku menghitung. Sambil mengobrol ringan ia tahu kalau aku salah seorang adik dari mahasiswa di fakultas ini juga. Ya dia tahu diriku, aku senang.
Banyak kekagumannku kepada mereka yang sulit untuk aku tuangkan. Mungkin cukup aku yang tahu. Bagitu mereka adalah sosok kartini masa kini. Wanita berperadaban tinggi yang ingin meraih cinta sang Rabbi. Dia satu dosenku, dia dua seniorku.
Tak perlu membeberkan deretan prestasi yang telah diraih, dengan mendengarnya berbicara kau akan tahu kalau dia pribadi yang cerdas. Wawasannya luas, katanya padat berisi, sikapnya renyah bersahabat namun tegas saat dibutuhkan. Untuk sebagian orang hal tersebut mungkin sudah biasa dan banyak dimiliki oleh penghuni planet bernama bumi ini.
Ada satu yang tidak biasa, ya kali ini sungguh berbeda. Aku mengaguminya karena imannya. Aku tahu aku bukan Tuhan yang dapat mengukur kedalaman iman seseorang. Aku berpendapat begitu karena aku melihat keteguhan mereka saat menyampaikan kebenaran berdasarkan Al-Qur'an dan sunnah. Keteguhan mereka saat melawan kebatilan yang merajalela, kekuatan mereka untuk berjalan menyampaikan firman-Nya di saat banyak yang memilih jalan lain.
Jauh dari kesan bahwa wanita makhluk lemah, kedua wanita ini selalu menampakkan taringnya pada dunia. Seolah menggenggam dunia pada telapak tangannya. Memilih hidup di jalan Illahi tak berarti dunia terbengkalai. Bagi kaum berpendidikan beasiswa ke luar negeri, siapa yang tidak tertarik? Namun tak semua bisa dipilih, tak semua bisa berangkat. Keduanya pernah mencicipi manis pahitnya studi di ranah Barat, ditengah agamanya menjadi minoritas. Mereka adalah orang-orang pilihan.
Baiklah akan aku ceritakan satu-persatu sosoknya sedikit lebih detail.
#Satu
Dia menjadi pakar di dua disiplin ilmu berbeda, kedokteran dan agama islam. Setiap kali ia mengisi kelas, aku mengabaikan rasa kantuk yang menjadi teman setiaku saat kuliah. Selama ini aku hanya bisa kagum dan fokus setiap kali ia memberikan materi. Aku hanya satu dari 250 mahasiswa dalam kelas itu.
Sesekali aku juga berjumpa dengannya di mushala kampus saat kajian. Di lain waktu aku bertemu saat seminar kedokteran. Lagi-lagi dia sebagai pematerinya. Kali itu mungkin aku satu dari puluhan mahasiswa yang menyimak materinya.
Siapa yang menyangka, saat kita bertemu di sebuah tempat donor darah ia menyapaku. Tak hanya itu, dia memanggil namaku. Aku sangat bangga bukan kepalang, dia tau namaku. Padahal aku hanya mahasiswa baru dan belum memiliki prestasi di kampus. Aku merasa bahwa kita sekarang telah saling mengenal.
#dua
Lagi-lagi kami dipertemukan lewat kampus. Dia mengisi materi saat masa orientasi kampus. Caranya berbicara sungguh menghipnotisku. Dia salah satu senior yang sangat aku kagumi. Dia benar "gaul" tetapi sangat islami. Dengan sederet organisasi, serangkaian tugas dan segerombol masalah, dia lulus tepat pada waktunya.
Aku berjalan dari parkiran menuju mushala, aku bertemu dengannya. Demi sopan santun junior aku menyapanya. Dia balas menyapa renyah. Kami beriringan berjalan ke mushala. Aku menghitung uang hasil jualan di kantin kejujuran. Ia membeli sederet jajanan ringan dan menemaniku menghitung. Sambil mengobrol ringan ia tahu kalau aku salah seorang adik dari mahasiswa di fakultas ini juga. Ya dia tahu diriku, aku senang.
Banyak kekagumannku kepada mereka yang sulit untuk aku tuangkan. Mungkin cukup aku yang tahu. Bagitu mereka adalah sosok kartini masa kini. Wanita berperadaban tinggi yang ingin meraih cinta sang Rabbi. Dia satu dosenku, dia dua seniorku.
Rabu, 17 Juli 2013
Sandaran Hati #PenaKamiTidakPuasa
Yakinkah ku berdiri
Di hempa tanpa tepi
Bolehkah aku
MendengarMu
Terkubur dalam emosi
Tanpa bisa bersembunyi
Aku dan nafasku
MerindukanMu
Terpuruk ku di sini
Terangi dia yang sepi
Dan ku tahu pasti
Kau menemani
Dalam hidupku
Kesendirianku
Teringat ku teringat
Pada janjiMu ku terikat
Hanya sekejap ku berdiri
Kulakukan sepenuh hati
Peduli ku peduli
Siang dan malam yang berganti
Sedihku ini tak ada arti
Jika Kaulah sandaran hati
Kaulah sandaran hati
Sandaran hati
Inikah yang Kau mau
Benarkah ini jalanMu
Hanyalah Engkau yang ku tuju
Pegang erat tanganku
Bimbing langkah kakiku
Aku hilang arah
Tanpa hadirMu
Dalam gelapnya
Malam hariku
Bagi sebagaian orang orang yang suka nonton sinetron sekitar tahun 2006 pasti familiar sama lagu yang satu ini. Yup! lagu ini menjadi sound track salah satu sinetron yang cukup booming dimasanya. Dengan komposisi musik yang lembut, syair yang bermakna dalam, dan vokal yang merdu dari sang vokalis. Lagu ini dikemas begitu romantis oleh group band asal Jawa bernama Letto ini. Peminat lagu ini juga cukup banyak saat itu. Begitu juga aku, lagu ini menjadi salah satu lagu favoritku semasa SMP. Jadi tak salah jika sinetron yang bertemakan cinta sesama manusia ini memasang lagu ini sebagai pengiringnya.
Namun, selidik punya selidik ternyata lagu ini mempunya makna yang jauh lebih dalam dari yang kita kira. Lagu ini dimaksudkan bahwa sang Sandaran Hati adalah Rabb atau Tuhan semesta alam. Liriknya menceritaan penghambaan manusia kepada Rabbnya dikala malam tiba yaitu salat malam.
Jadi soundtracknya sinetronnya tidak seusai? Wallahu'alam
just info, #PenaKamiTidakPuasa
Di hempa tanpa tepi
Bolehkah aku
MendengarMu
Terkubur dalam emosi
Tanpa bisa bersembunyi
Aku dan nafasku
MerindukanMu
Terpuruk ku di sini
Terangi dia yang sepi
Dan ku tahu pasti
Kau menemani
Dalam hidupku
Kesendirianku
Teringat ku teringat
Pada janjiMu ku terikat
Hanya sekejap ku berdiri
Kulakukan sepenuh hati
Peduli ku peduli
Siang dan malam yang berganti
Sedihku ini tak ada arti
Jika Kaulah sandaran hati
Kaulah sandaran hati
Sandaran hati
Inikah yang Kau mau
Benarkah ini jalanMu
Hanyalah Engkau yang ku tuju
Pegang erat tanganku
Bimbing langkah kakiku
Aku hilang arah
Tanpa hadirMu
Dalam gelapnya
Malam hariku
Bagi sebagaian orang orang yang suka nonton sinetron sekitar tahun 2006 pasti familiar sama lagu yang satu ini. Yup! lagu ini menjadi sound track salah satu sinetron yang cukup booming dimasanya. Dengan komposisi musik yang lembut, syair yang bermakna dalam, dan vokal yang merdu dari sang vokalis. Lagu ini dikemas begitu romantis oleh group band asal Jawa bernama Letto ini. Peminat lagu ini juga cukup banyak saat itu. Begitu juga aku, lagu ini menjadi salah satu lagu favoritku semasa SMP. Jadi tak salah jika sinetron yang bertemakan cinta sesama manusia ini memasang lagu ini sebagai pengiringnya.
Namun, selidik punya selidik ternyata lagu ini mempunya makna yang jauh lebih dalam dari yang kita kira. Lagu ini dimaksudkan bahwa sang Sandaran Hati adalah Rabb atau Tuhan semesta alam. Liriknya menceritaan penghambaan manusia kepada Rabbnya dikala malam tiba yaitu salat malam.
Jadi soundtracknya sinetronnya tidak seusai? Wallahu'alam
just info, #PenaKamiTidakPuasa
Minggu, 14 Juli 2013
cegah cegukan saat puasa
Hi! gue lagi ikutan acara #FLPMengguncangRamadhan nih,
jadi di sekret FLP atau yang biasa disebut Rumah Cahaya ini puluhan anggota FLP
Aceh lagi pada ngabuburit. Ngabuburit kita emang dikemas agak beda sama yang
lain. Kita semua disini pada sibuk memijit keyboard laptop agar menghasilkan
suatu tulisan yang berguna bagi yang membaca. Amiiin
Nggomong-ngomong soal Ramadhan hal yang ada di benak
kita pasti tentang puasa, tarawih, dan yang paling penting itu THR. Tapi daripada
THR, buat gue ada yang lebih fenomenal setiap bulan ramadhan.
Inini yang menjadi problematika gue kalo bulan
Ramadhan dari tahun ke tahun selain kehausan dan kelaperan yang mendera. Hal
ini selalu menyapa gue satiap bulan Ramadhan tiba. Dari kecil sampe segede gini
tetep aja gue menderita cegukan, entah di awal ramadhan, di tengah ramadhan, atau
di akhir ramadhan.
“Dut, cegukan itu tandanya mau dapet duit!”
“Ah yang bener kak?!”
“Percaya aja lu!”
“Zzzzzz…..”
Hal itu sedikit banyak mengganggu gue. Apalagi kalo
lagi ngejar target tadarusan. Baru sebaris gue ngaji cegukan, lanjut lagi
ngajinya cegukan lagi walhasil ngajinya nggak sesuai sama apa yang diharapkan.
Nah karena penyakit ini, gue mau ngasih beberapa
tips agar kalian nggak menderita cegukan atau dehidrasi pas puasa menurut
pengalaman gue.
1. Yang
pasti minum yang banyak pas sahur.
2. Jangan
makan kerupuk karena kerupuk itu mengandung natrium dia itu menyerap air dalam
tubuh.
3. Jangan
minum teh atau kopi pas sahur karena
kedua minuman itu mengandung zat deuritik
bikin sering buang air kecil.
4. Jangan
coba-coba tidur abis sahur deh, karena kalo bangun itu biasanya langsung haus
berat.
5. Kalo
nggak penting-penting banget jangan keluar rumah, apalagi kalau cuaca lagi
panas.
6. Walaupun
lagi puasa kita harus tetap jaga stamina, tapi olahraga biasa aja jangan
berlebihan.
Nah kalo udah ngelakuin tips-tips tersebut tapi
masih menderita cegukan gue juga punya beberapa trik yang gue dapet dari
beberapa temen dan lingkungan seputar masalah ini.
1. Tahan
napas beberapa detik.
2. Minta
orang untuk ngagetin.
3. Alihkan
perhatian biar lupa sama cegukan, nanti lama-lama juga ilang sendiri.
Hmmm kayaknya itu aja
deh beberapa tips and trick yang gue
kasih, kalo ada kesalahan dalam teori dan penulisan mohon maaf lahir batin yaa
mumpung Ramadhan, selamat mencoba ^^
Kamis, 20 Juni 2013
mas, ini timun #bagian 1
Siapa yang tak ingin
memiliki sebuah keluarga bahagia, sepasang suami-istri yang saling mencintai
dilengkapi dengan buah hati yang cerdas. Sebuah keluarga yang tiap detiknya
dihiasi dengan kelembutan dan setiap menitnya diisi dengan kasih sayang, cinta dan tanggunng
jawab. Setiap individu dalam keluarga menjalankan tugas dalam harmonisasi yang
sempurna, ayah mencari nafkah, ibu membuatkan sarapan dan anak yang penurut.
Pasti setiap makhluk Tuhan di bumi akan cemburu melihatnya. Sayangnya takdir
indah itu tidak selalu menjadi bagian dari setiap makhluk Tuhan yang bernama
manusia di bumi ini. Faktanya jauh api dari panggang, namun Tuhan pasti punya skenario
yang paling baik untuk setiap hamba-hambanya.
Mbok Sumi seorang janda
paruh baya tinggal di sudut desa yang
terletak di pedalaman Jawa, hidupnya jauh dari kata menyenangkan, jangankan
anak, suami saja tak punya. Mbok Sumi kehilangan suaminya untuk selama-lamanya
tujuh tahun yang lalu. Saat itu baru dua minggu usia pernikahan mbok Sumi,
suami mbok Sumi tertiban pohon yang tumbang saat pejalanan pulang dari ladang timun
milik mereka. Seiring hari berlalu Mbok Sumi iri dengan tetangga yang memiliki
keluarga utuh, apalagi semakin hari Ia semakin ingin memiliki seorang anak.
Mbok Sumi merasa takdir tidak adil padanya, padahal selama ini ia selalu
berbuat baik. Dan rasa iri ini mungkin yang pertama tumbuh subur di hatinya. Ia
sebatang kara, usianya kini hampir menginjak 40 tahun, Ia mulai berfikir, jika
lanjut usia nanti siapakah yang akan mengurus dirinya kelak? Ia sungguh
kesepian, akhirnya pada suatu hari Ia membuat sebuah keputusan besar.
Derasnya hujan dan
gelegar suara petir di malam Jum’at kliwon tidak mengurungkan niat Mbok Sumi
pergi ke puskesmas poli kandungan untuk
menculik seorang anak yang baru saja lahir dari seorang ibu muda, kala
itu jam dinding berdentang genap duabelas kali, para perawat tampak kelelahan
di duduk di meja jaga. Dengan gerakan gesit dan hati-hati Mbok Sumi akhirnya
berhasil membawa kabur si bayi mungil malang itu.
Berita hilangnya bayi
mungil itu mulai tersebar ke seluruh kampung, Mbok Sumi mulai cemas jika Ia
tertangkap tangan oleh aparat desa sedang bersama bayi yang hilang itu. Mbok
Sumi memutuskan untuk pindah ke desa sebrang yang berjarak cukup jauh dari
desanya sekarang. Pagi buta Ia menumpang truk sayur yang akan berangkat ke
pasar. Sesampainya di pasar mbok Sumi memutuskan mencari pemukiman untuk
mengontrak rumah agar Ia bisa melanjutkan hidup bersama bayinya sekarang.
Akhirnya Ia mendapatkan sebuah kontrakan mungil yang cukup nyaman untuk
ditempati. Mbok Sumi amat menyukai bayi itu, matanya bulat kulitnya putih
dilengkapi dengan bibir mungil kemerahan. Mbok Sumi merasa mempunyai seorang
anak adalah kebahagiaan terbesar selama hidupnya, untuk mengenang almarhum
suaminya dan ladang timun milik mereka dahulu, Mbok Sumi memetuskan untuk
memberi nama anaknya Timun perak.
Hari berlalu begitu
cepat, tak terasa 17 tahun sejak peristiwa penculikan itu, sampai sekarang
tidak pernah ada yang mengetahui rahasia besar Mbok Sumi. Timun tumbuh menjadi
anak yang sangat membanggakan, Ia sangat menyukai belajar, Ia gadis yangcerdas,
Ia berhasil menamatkan Sekolah Menengah Atas dengan nilai yang amat memuaskan,
biaya sekolah pun Ia dapatkan dari beasiswa karena kepintarannya. Tak hanya itu,
usai tamat SMA sebuah Universitas tinggi negeri di kotanya pun menerima Timun
menjadi mahasiswa penerima undangan di salah satu jurusan favorit yaitu
akuntansi. Mbok Sumi amat bangga dengan kepintaran anaknya, tak kuasa ia
meneteskan air mata saat mengetahui pengumuman itu.
Timun memutuskan untuk
memecahkan celengan yang sejak SMP sudah ia tabung untuk membeli perlengkapan
belajar di kampus. Ia berniat membeli buku-buku literatur serta peralatan
kampus. Sebelum membeli peralatan kampus, Timun sibuk mengurus berkas-berkas
yang ia butuhkan untuk melanjutkan studinya. Gadis itu pergi ke sebuah gerai
fotokopi untuk menduplikasikan berkas persyaratan yang dibutuhkan. Ia terlihat resah karena sebentar lagi kantor
bagian administrasi kampusnya akan tutup. Setelah berkas semua lengkap segera
Ia meninggalkan tempat fotokopi menuju kantor administrasi. Ia lega karena
datang tepat pada waktunya. Hari makin larut, timun memutuskan menaiki dokar
yang lewat depan kampusnya, “pakle depan toko kue itu tolong minggir ya pak
le!” kusir dokar pun berhenti sesuai perintah. “loh duitku ntek loh? Dompet
ku!... tolong copet, copet!”
#jeng jeng jeng.............. bersambung, gatau kapan ada lanjutannya hehehe
Rabu, 19 Juni 2013
minuman...
'minuman lu dari dulu kaga berubah-berubah, itu aja..' si mpok dari motor, nengok ke belakang. eh bagi dong.
'eh?' refleks aku melihat tangan sedang memegang teh dalam kemasan sambil menyodorkan ke mpok. iya juga, minuman gue dari dulu emang teh, dari kecil kalau pergi makan bakso, di jalan, dimana aja kapan aja, mau makan apapun minumnya teh *eh jadi kayak iklan itu..... kalo dulu sih gak tau kenapa milih teh, padahal kaka gue atau ortu gue beli es campur, es jeruk apalah tp gue malah milih teh botol, dan sampe sekarang gue masih milih teh buat minum dijalan, alesannya selain praktis yaaa lebih murah, jujur kalo ditawarin mah sekarang gue lebih milih jus terong belanda. buat orang jawa yg belom pernah nyobain jus terong belanda, itu enak banget, antioksidannya juga banyak, terong belanda itu jangan lu bayangin kayak terong biasa yang suka disambelin buat lauk itu, ini beda! enaaaak bgt~~~ so cobain lah,disini banyak banget buahnya, visit aceh 2013!!!
ohiya ngomong-ngomong soal teh, ternyata gue baru tau pas lagi lingkaran cinta mingguan, maklum murabbi gue seorang dokter jadi bahasannya selain keislaman kadang disisipi info kesehatan, jadi ternyata kalau makan dikombinasikan sama minum teh itu efeknya kurang bagus untuk pencernaan, jadi gantilah menu makan siang anda di kantin nasi+ teh jadi nasi+jus atau kalau anda orang yang kere jadi nasi+air putih boleh juga hehe
jadi mau cerita nih, jadi dulu pas gue kecil kalo diajak pergi pasti gue gampang haus dijalan, padahal baru sampe depan gang rumah, udah ngerengek sama emak... maaa hauss teh botoool......... lalu mama menyesal karena ga bawa minum
oke hari berikutnya kalau pergi mama, mama mensiasati membawa minuman biar anaknya ga ngabisin duit di jalan dikit2 minta minuum.. dan bener aja, baru keluar gang tepat setelah naik angkot, gue bilang maa... haus, mama dengan senyumnya menyodorkan minuman. dalam hati, yah mama bawa minum lagi ......... ma, ga dingin.... yaudah minum aja. entah apa yg ada di pikiran anak kecil, aku cepat-cepat habiskan minumnya agar tetap bisa dibelikan minum.
beberapa hari berikutnya... mama emang orang yang paling prepare. kali ini mama membawa beberapa botol minuman, ada teh ada air putih, tidak hanya itu mama memasukan minuman sebelumnya ke freezer biar waktu di jalan tetap dingin. tapi tetap aja sensasi beli minuman diliuar itu lebih enak dari pada bawa sendiri. hmmm ah dasar, itu perasaan aja.
mama juara emak prepare banget deh, si mpok kan pernah sakit pas SMA gara-gara kecapekan, sampe kena hepatitis A. katanya sih solusinya selain obat dokter+istirahat+minum temulawak bayakin minum glukosa. sejak saat itu hampir setiap hari di kulkas gue ada es buah, isinya ganti_ganti. kadang blewah, melon, pepaya. kadang-kadang diganti juga sama jus, selain karena kalo belum dibuat jus pada males makan buah, jadi emak buatin deh jus jambu, mangga, strawberry, jus jeruk apa aja deh... bahkan sampe gue mau masuk kuliah, di kulkas pasti ada minuman fresh gituuu... hmmmm kangen emak nih kalo kayak gini jadinya u,u andai emak tahuuu, dulu gue minum jus seenaknya aja bergelas-gelas, sekarang satu gelas 8000 huaaaa derita anak kos :'(
tapi untungnya karena semester depan gue mau pindah dari kosan ke rumah, jadi bisa beli kulkas..... yeye lalala yeyeye lalala kulkas adalah benda paling berharga di Banda Aceh yg so hot ini, dan emak gue nyuruh beli blender! doble wow banget, jd pasti lebih irit kaga ngabisin 8000 untuk sekali minum doang hehehe
udah itu aja curhat gue seputar minman
Langganan:
Postingan (Atom)
